Rabu, 20 April 2016

Kesedihan Merayakan Dirinya Sendiri

Aku banyak menghabiskan waktu dengan melarikan diri, menonton film dari bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan sampai lupa makan. Mendengarkan lagu yang liriknya sama sekali tak ku mengerti. Mengangguk-anggukan kepala seolah menikmati. Berpura-pura.

Sisa hari, saat sinar layar laptop dan ponsel sudah terlalu banyak menyakiti mata, atau alunan nada-nada telah berubah menjadi denging yang memekakkan telinga, aku akan berbaring di lantai kamarku, menatap langit-langit, menangis.

Menganggap bahwa semesta tahu semua yang kurasakan sekaligus merasa tak ada siapapun atau apapun yang mampu memahami apa yang  kurasakan. berkelahi dengan diri sendiri di antara dua pilihan untuk membenci atau merindukan.

Aku sering memikirkan banyak hal yang membahagiakan. berharap kebencian lekas-lekas pergi dan membiarkan kehangatan kenang menelusup ke dalam jiwa, tapi anehnya, semakin teringat banyak hal membahagiakan yang kulewati bersamanya, semakin besar pula benci yang bersarang dalam dada.

Aku sering memakinya di dalam kepalaku. Dengan penuh air mata dan kemarahan, aku menampar, menerjang, menendang, meludahi. Beratus kali. Tapi sebesar benci yang tumbuh, rindu tak pernah mau kalah. Satu-satunya yang kalah adalah aku. Hilang kendali atas diriku sendiri. Menjadi medan perang antara perasaan-perasaan yang saling menyakiti. Benci-rindu-benci-rindu-benci. Begitu berulang-ulang sampai sakit sekali rasanya untuk bernapas. Sakit sekali rasanya untuk berdiri, berjalan atau sekedar bersandar.

Aku sering memikirkan betapa banyak hal baik yang telah ia lakukan padaku. Berharap aku akan mengenalnya lagi sebagai sosok yang selama ini aku rindu. Tapi semakin banyak kuingat, semakin sakit hatiku atas keculasan dalam kekalemannya, kecurangan dalam lembut perilakunya.

Aku sering mengingat-ingat hal apa saja yang telah kulakukan demi dirinya. Seperti bunuh diri saja rasanya. Semakin teringat, semakin teriris dadaku. Semakin tersedu, tak mampu bernafas.

Aku mengingat betapa banyak cinta dan percaya yang kuberikan. Dalam erat dekapku saat memeluknya, dalam pelan jeramiku saat membelai legam rambutnya.

Aku mengingat banyak rindu yang kugugurkan di dadanya, dipeluknya, digenggamannya.

Aku mengingat banyak hal.

Lalu aku akan bertanya, "mengapa kau begitu tolol?"

"..tak mampukah kau lihat aku yang sudah tenggelam terlalu dalam kepadamu? Tak mampukah kau lihat aku yang telah memberikan setengah napasnya untukmu? Tak mampukah kau lihat aku yang kuat-kuat menggenggam hatinya agar tak terpeleset kemudian jatuh ke tangan laki-laki lain selainmu?"

Aku akan berhenti sebentar, mengatur napas yang sudah kepayahan, mengelap asal air mata dengan punggung tangan.

Lalu bertanya lagi dengan keparauan yang tak hilang, "mengapa aku begitu tolol?"

"..mengapa tak sejak dulu saja aku pergi? Mengapa tak sejak dulu aku meninggalkannya saat pertama kali aku tahu ia membohongiku? Mengapa aku memberinya kesempatan saat tahu ia sudah sejak dulu senang mencari perhatian perempuan lain? Mengapa aku masih percaya padanya meski seringkali merasa bahwa sudah dibohongi? Mengapa aku masih sudi percaya padahal tahu jarak adalah hal yang mudah sekali dicurangi? Mengapa aku tak mau mendengarkan diriku sendiri?"

Keheningan yang terlalu diam. Rindu dan benci yang berlompatan.

"..dan dari banyak kepercayaan yang aku tumpahkan, cinta yang aku hujankan, kesetiaan yang aku lapangkan.."

"..dan dari banyak tawa yang kita lewatkan, tangis yang kita sedukan, genggam, peluk yang kita hangatkan.."

"..dan dari banyak pertengkaran yang kita lupakan, masa lalu yang kita tinggalkan, kebencian yang kita pendam dalam-dalam.."

"..mengapa kau tega?"

Lalu dalam keheningan lain yang panjang, sekali lagi kubiarkan kesedihan merayakan dirinya sendiri dilangit-langit kamarku.       

- T