Rabu, 20 April 2016

Kesedihan Merayakan Dirinya Sendiri

Aku banyak menghabiskan waktu dengan melarikan diri, menonton film dari bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan sampai lupa makan. Mendengarkan lagu yang liriknya sama sekali tak ku mengerti. Mengangguk-anggukan kepala seolah menikmati. Berpura-pura.

Sisa hari, saat sinar layar laptop dan ponsel sudah terlalu banyak menyakiti mata, atau alunan nada-nada telah berubah menjadi denging yang memekakkan telinga, aku akan berbaring di lantai kamarku, menatap langit-langit, menangis.

Menganggap bahwa semesta tahu semua yang kurasakan sekaligus merasa tak ada siapapun atau apapun yang mampu memahami apa yang  kurasakan. berkelahi dengan diri sendiri di antara dua pilihan untuk membenci atau merindukan.

Aku sering memikirkan banyak hal yang membahagiakan. berharap kebencian lekas-lekas pergi dan membiarkan kehangatan kenang menelusup ke dalam jiwa, tapi anehnya, semakin teringat banyak hal membahagiakan yang kulewati bersamanya, semakin besar pula benci yang bersarang dalam dada.

Aku sering memakinya di dalam kepalaku. Dengan penuh air mata dan kemarahan, aku menampar, menerjang, menendang, meludahi. Beratus kali. Tapi sebesar benci yang tumbuh, rindu tak pernah mau kalah. Satu-satunya yang kalah adalah aku. Hilang kendali atas diriku sendiri. Menjadi medan perang antara perasaan-perasaan yang saling menyakiti. Benci-rindu-benci-rindu-benci. Begitu berulang-ulang sampai sakit sekali rasanya untuk bernapas. Sakit sekali rasanya untuk berdiri, berjalan atau sekedar bersandar.

Aku sering memikirkan betapa banyak hal baik yang telah ia lakukan padaku. Berharap aku akan mengenalnya lagi sebagai sosok yang selama ini aku rindu. Tapi semakin banyak kuingat, semakin sakit hatiku atas keculasan dalam kekalemannya, kecurangan dalam lembut perilakunya.

Aku sering mengingat-ingat hal apa saja yang telah kulakukan demi dirinya. Seperti bunuh diri saja rasanya. Semakin teringat, semakin teriris dadaku. Semakin tersedu, tak mampu bernafas.

Aku mengingat betapa banyak cinta dan percaya yang kuberikan. Dalam erat dekapku saat memeluknya, dalam pelan jeramiku saat membelai legam rambutnya.

Aku mengingat banyak rindu yang kugugurkan di dadanya, dipeluknya, digenggamannya.

Aku mengingat banyak hal.

Lalu aku akan bertanya, "mengapa kau begitu tolol?"

"..tak mampukah kau lihat aku yang sudah tenggelam terlalu dalam kepadamu? Tak mampukah kau lihat aku yang telah memberikan setengah napasnya untukmu? Tak mampukah kau lihat aku yang kuat-kuat menggenggam hatinya agar tak terpeleset kemudian jatuh ke tangan laki-laki lain selainmu?"

Aku akan berhenti sebentar, mengatur napas yang sudah kepayahan, mengelap asal air mata dengan punggung tangan.

Lalu bertanya lagi dengan keparauan yang tak hilang, "mengapa aku begitu tolol?"

"..mengapa tak sejak dulu saja aku pergi? Mengapa tak sejak dulu aku meninggalkannya saat pertama kali aku tahu ia membohongiku? Mengapa aku memberinya kesempatan saat tahu ia sudah sejak dulu senang mencari perhatian perempuan lain? Mengapa aku masih percaya padanya meski seringkali merasa bahwa sudah dibohongi? Mengapa aku masih sudi percaya padahal tahu jarak adalah hal yang mudah sekali dicurangi? Mengapa aku tak mau mendengarkan diriku sendiri?"

Keheningan yang terlalu diam. Rindu dan benci yang berlompatan.

"..dan dari banyak kepercayaan yang aku tumpahkan, cinta yang aku hujankan, kesetiaan yang aku lapangkan.."

"..dan dari banyak tawa yang kita lewatkan, tangis yang kita sedukan, genggam, peluk yang kita hangatkan.."

"..dan dari banyak pertengkaran yang kita lupakan, masa lalu yang kita tinggalkan, kebencian yang kita pendam dalam-dalam.."

"..mengapa kau tega?"

Lalu dalam keheningan lain yang panjang, sekali lagi kubiarkan kesedihan merayakan dirinya sendiri dilangit-langit kamarku.       

- T 

Senin, 04 November 2013

Serendipity: Sesuatu Tentang Hidup by Minibalanar

Hidup ini bukanlah tentang mengumpulkan nilai. Bukan tentang berapa banyak orang yang menelponmu dan juga bukan tentang siapa pacarmu, bekas pacarmu, atau orang yang belum kau pacari. Bukan tentang siapa yang telah kau cium, olah raga apa yang kau mainkan, atau cowok atau cewek mana yang menyukaimu. Bukan tentang sepatumu, atau rambutmu atau warna kulitmu atau tempat tinggalmu atau sekolahmu atau kampusmu.

Bahkan juga bukan tentang nilai-nilai ujianmu, bukan tentang uang, baju, atau perguruan tinggi yang menerimamu atau yang tidak menerimamu. Hidup ini bukan sekedar apakah kau memiliki banyak teman, atau apakah kau seorang diri, dan bukan tentang apakah kau diterima atau tidak oleh lingkunganmu.

Hidup bukan sekedar tentang itu.

Namun, hidup ini adalah tentang siapa yang kau cintai dan kau sakiti. Tentang bagaimana perasaanmu terhadap dirimu sendiri. Tentang kepercayaan, kebahagiaan dan welas asih. Hidup adalah tentang menghindari rasa cemburu, iri hati, mengatasi rasa tidak peduli, dan membina kepercayaan. Tentang apa yang kau katakan dan yang kau maksudkan. Tentang menghargai orang apa adanya dan bukan karena apa yang dimilikinya. Dan yang terpenting, hidup ini adalah tentang memilih untuk menggunakan hidupmu untuk menyentuh hidup orang lain dengan cara yang tak bisa digantikan dengan cara lain. Hidup adalah pilihan-pilihan itu...

Ya, bagi saya pribadi, hidup ini adalah tentang memilih untuk menggunakan hidup saya untuk menyentuh hidup orang lain dengan cara yang tak bisa digantikan dengan cara lain. Ketika saya mulai mengenali hal itu, saya pun mulai menggunakan hal itu sebagai salah satu misi hidup saya yang terpenting—menyentuh hidup orang lain dengan cara yang tak bisa digantikan dengan cara lain ataupun oleh orang lain.

Dan hidup ini begitu menakjubkan, bukan? Ketika kita telah menemukan misi kita dalam hidup ini, maka hidup ini pun akan membawakan begitu banyak hal baru bagi kehidupan kita—hal-hal baru yang akan semakin memperkaya batin kita sekaligus mendewasakan nalar kemanusiaan kita.

Ketika kita membuka pintu hati kita untuk orang lain, maka kehidupan pun akan membukakan pintunya untuk kita. Dan jika kehidupan telah membukakan pintunya untuk kita, maka tak ada seorang pun yang dapat menutupnya kembali.

Ketika kehidupan telah membentangkan pintunya untuk kita, tak ada lagi batas yang memisahkan antara diri kita dengan hidup—kita menyatu bersamanya. Dan apakah yang lebih indah selain menyadari bahwa kita telah bisa menyatu dengan hidup...?

Salah satu misteri dalam kehidupan ini adalah sesuatu yang dalam literatur Barat disebut sebagai ‘serendipity’. Secara definitif, saya tidak dapat menemukan arti atau makna dari kata itu. Saya sudah mencoba mencari arti dari kata itu di buku kamus bahasa Inggris, bahkan yang paling lengkap, namun tidak ada. Saya sudah mencoba mencarinya di kamus elektronik di komputer saya, namun ketika saya mengetikkan kata itu, arti yang muncul dari ‘serendipity’ adalah ‘serendipas’. Nah, saya juga tidak tahu apa itu serendipas—saya pikir itu salah satu kosakata bahasa Indonesia yang tidak dikenal. Maka saya pun mencoba mencarinya di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Namun hasilnya nihil. Kamus yang besar itu sama sekali tak memuat suku kata ‘serendipas’. Rupanya, arti ‘serendipity’ itu sendiri sudah mengandung kemisteriusan tersendiri.

Nah, apa sesungguhnya serendipity itu?

Saya sudah mencoba mendefinisikannya dalam sebuah kalimat berdasarkan pengertian dan pemahaman saya akan kata itu, namun tetap saja saya tak mampu mendefinisikannya dengan simpel dan baik. Saya sudah mencoba mencarinya dalam ratusan buku yang sekiranya memuat kata itu beserta definisinya, namun tidak juga berhasil menemukannya. Satu-satunya kalimat yang bisa dirujukkan untuk menjadi definisi dari kata serendipity adalah sebuah kalimat yang ditulis oleh Kahlil Gibran dalam bukunya yang agung, The Prophet.

Di dalam The Prophet, saya menemukan kata-kata, yang bagi saya, mampu melukiskan apa yang disebut sebagai serendipity itu. Inilah kata-katanya, “Jangan mengundang makan orang kaya ke rumahmu. Kau akan dibalas dengan undangan makan ke rumahnya. Undanglah orang miskin untuk makan ke rumahmu. Mereka tidak bisa membalasmu, maka alam yang akan membalasmu. Dan bila alam membalasmu, maka tunggulah datangnya keajaiban...”

Kata-kata yang ditulis Gibran itu bukanlah definisi untuk kata serendipity, tetapi kata-kata itulah yang menurut saya paling tepat untuk dijadikan sandaran bagi pendefinisian kata serendipity—salah satu misteri kehidupan yang agung itu.

Jadi, sekali lagi, apakah serendipity itu? Sekarang kita mulai memiliki suatu bayangan—bahwa ketika kita mengulurkan tangan pada orang lain yang tak mampu membalas uluran tangan kita, maka kehidupan ini yang akan membalasnya—kehidupan akan mengulurkan tangannya kepada kita. Dan jika kehidupan ini mengulurkan tangannya kepada kita, persoalan apa yang tak dapat kita atasi...?

Begitu pun sebaliknya. Ketika kita melakukan kejahatan terhadap orang lain yang tak mampu membalas kejahatan kita, maka kehidupan ini yang akan membalasnya—kehidupan akan membalaskan kejahatan yang setimpal. Dan jika kehidupan ini melancarkan pembalasan kepada kita, kemanakah dapat bersembunyi, dan siapa yang sanggup menolongnya...?

Ketika kita semakin menyelami kehidupan, kita akan semakin tahu betapa menakjubkannya hidup ini dan betapa ajaibnya cara kehidupan mengatur dan menjalankan aturan-aturannya. Tanamkanlah biji mangga ke dalam bumi yang kita tinggali, maka biji mangga itu tidak akan menumbuhkan pohon durian—ia akan menumbuhkan pohon mangga, sesuai dengan biji benihnya. Begitu pun, segala hal dan perbuatan yang kita tanamkan dalam hidup ini, maka tepat seperti itulah yang akan diberikan hidup untuk diri kita. Jika kita menanamkan kebaikan, maka hidup akan memberikan kebaikan. Jika kita menanamkan kejahatan, maka hidup pun akan memberikan hal yang sama. Sebagaimana biji mangga tidak akan menumbuhkan pohon durian, tepat seperti itulah kehidupan yang kita jalani ini, ia hanya merefleksikan apa yang telah kita tanamkan kepadanya.

Selama bertahun-tahun saya menyaksikan dan terus menyaksikan, betapa hidup yang kita jalani ini tak pernah berubah menjalankan hukum-hukumnya yang abadi. Saya menyaksikan seorang kawan yang melakukan tabrak lari, dan sekian waktu kemudian ia pun menjadi korban tabrak lari. Saya menyaksikan lelaki-lelaki yang memperdaya perempuan dengan hartanya, dan kemudian kehidupan ini pun memperdaya lelaki-lelaki itu hingga benar-benar tak berdaya. Saya menyaksikan perempuan-perempuan yang mengkhianati cinta kekasihnya, dan bertahun-tahun kemudian—bahkan ketika si perempuan itu telah lupa pada pengkhianatannya—kehidupan ini menjungkirkannya ke dalam lubang jeram pengkhianatan.

Begitu pun, saya menyaksikan tangan-tangan yang pemurah, yang penuh ketulusan terulur kepada setiap orang yang membutuhkan, dan saya membuktikan bahwa kehidupan pun selalu mengulurkan tangan kepadanya. Tangan yang mengulurkan bunga yang harum kepada orang lain akan ikut berbau harum, meskipun bunga itu telah berpindah tangan, bukan?

Ketika kita menyadari hakikat hidup yang semacam itu, kita pun tak akan lagi mengatakan bahwa hidup ini tidak adil. Hidup sudah berlaku dengan sedemikian adil—ia hanya menumbuhkan benih yang ditanam, ia hanya merefleksikan apa yang pernah kita berikan.

Apakah kalau kau menyakiti seseorang, kemudian orang itu pasti akan membalas menyakitimu? Belum tentu! Tetapi saya hampir bisa memastikan bahwa suatu saat akan ada orang lain yang akan datang dalam hidupmu dan kemudian menyakitimu. Kau akan menerima sesuatu yang tepat sama seperti yang pernah kau berikan—tak peduli kau menyadarinya ataukah tidak.

Begitu pun ketika kau membahagiakan hati seseorang, atau membantu kesulitan seseorang. Mungkin orang yang kau tolong itu tidak mampu membalas kebaikanmu. Tetapi kau bisa membuktikan bahwa ketika kau sendiri membutuhkan pertolongan, selalu ada orang-orang yang akan datang menolongmu—tak peduli kau menyadarinya ataukah tidak.

Hidup ini tidak buta. Ia selalu melihat tangan mana yang mengulurkan bunga kepada orang lain, ia pun selalu menyaksikan tangan mana yang menancapkan duri kepada orang lain. Siapa yang mengulurkan bunga akan ikut mendapatkan wanginya, siapa yang menancapkan duri akan ikut berdarah. Karena hidup ini sudah sedemikian adil, rasanya kita pun perlu menjalaninya dengan adil pula, bukan?

Terkadang, cara kehidupan ini membalas perbuatan kita tidak persis sama dengan apa yang (pernah) kita lakukan, namun bahwa pembalasan itu ada, itu adalah fakta—dan itulah yang disebut serendipity.

Jumat, 02 Agustus 2013

Aku Pernah Begitu Mencintai Seseorang

aku menyukai sekali kata-kata yang mengalir dengan sendirinya dari hati. seperti kata-kata milik kak Tia Setiawati ini :')


AKU PERNAH BEGITU MENCINTAI SESEORANG

Pernahkah kau merasa begitu mencintai seseorang?
Begitu merasa hidupmu sepertinya berhenti bahagia saat dia tak ada?
Begitu merasa sempurna saat sedang bersamanya?
Begitu merasa kurang saat dia berkata dia tak akan lagi pulang?
Begitu merasa lemah saat peluknya bukan lagi untukmu?
Pernahkah?
Aku pernah.
Aku pernah begitu mencintai seseorang,
sampai aku merasa aku tak akan pernah lagi bisa
mencintai siapapun sedalam aku mencintainya.
Aku pernah begitu bahagia dan merasa hidupku begitu sempurna,
hanya dengan meluangkan waktuku bersamanya.
Melihatnya tersenyum lalu tertawa,
menggenggam jemarinya,
mendamaikan gelisahnya,
membantu segala masalahnya.
Aku pernah merasa begitu kurang,
saat suatu waktu dia berkata dia tak akan lagi pulang.
Dia bilang, rumahnya bukan terletak pada hatiku
yang telah lama dia huni dengan alas berjuta rinduku.
Aku pernah merasa begitu lemah,
sampai tak bertenaga dan tak hendak bepergian ke mana-mana.
Kulihat dia bersama seorang yang baru.
Entah siapa.
Namun pasti, peluknya bukan lagi untuk ragaku.
Aku pernah begitu dalam mencintai seseorang.
Pernah.
Dan sampai detik ini, rasa itu masih begitu dalam.
Walau telah kusuarakan dalam cinta yang diam.
 ***

Selasa, 30 Juli 2013

Kisah nyata tuk dijadikan renungan

Kisah nyata ini menceritakan seorang muslimah berjilbab di Amerika Serikat (USA) sekitar tahun 2006.


suatu malam seorang wanita berjilbab berjalan pulang dari bekerja dan agak kemalaman, suasana jalan setapak sangat sepi, ia melewati jalan pintas.
Di ujung jalan pintas itu, dia melihat ada sosok pria. Ia menyangka pria itu warga Amerika. Tapi perasaan wanita ini agak was-was karena sekilas raut pria itu agak mencurigakan seolah ingin mengganggunya.

Dia berusaha tetap tenang dan membaca kalimat Allah. kemudian dia lanjutkan dengan terus membaca Ayat Kursi berulang-ulang seraya bersungguh-sungguh memohon perlindungan Allah SWT dalam hatinya. meski tidak mempercepat langkahnya, ketika ia melintas di depan pria berkulit putih itu, ia tetap berdoa. sekilas ia melirik ke arah pria itu yang tengah asik dengan rokoknya, dan seolah tidak mempedulikannya.
keesok harinya, wanita muslimah itu melihat berita kriminal di televisi, seorang wanita melintas di jalan yang ia lalui semalam, hanya berselang beberapa menit wanita malang itu mengalami pelecehan seksual di tempat yang sama. karena begitu ketakutan, ia tidak dapat melihat dengan jelas pelakunya.

hati muslimah ini pun tergerak untuk membantu wanita malang itu, dan memberanikan diri datang ke kantor polisi, untuk memberitahukan bahwasanya ia bisa mengenali sosok pelaku pelecehan pada wanita tersebut. karena ia juga menggunakan jalan yang sama sesaat sebelum wanita itu melintas. melalui kamera rahasia, akhirnya muslimah ini pun menunjuk salah seorang yang diduga sebagai pelaku, ia yakin bahwa pelakunya adalah pria ini yang ada dilorong malam itu. melalui interogasi polisi akhirnya orang itu pun mengakui perbuatannya. tergerak rasa ingin tahu, muslimah ini pun menemui pelaku di dampingi oleh polisi.

Muslimah : "apa anda tidak melihat saya? saya juga melewati jalan itu beberapa menit sebelum wanita yang kau perkosa itu? mengapa anda tidak mengganggu saya? padahal saat itu saya sendirian?"

penjahat : "tentu saja saya melihatmu. saya tidak berani mengganggu anda, karena saya melihat dibelakang anda  ada dua orang pria berbaju putih dan tinggi besar mengawal anda pada saat itu, satu di kanan dan satu di kiri anda"

muslimah itu pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, sekujur tubuhnya bergetar hebat, hanya hatinya  yang penuh rasa syukur kepada Allah, mendengar penjelasan pria itu.
"Alhamdulillah Ya Allah, Engkau masih mendengar doaku dan melindungiku" ujar muslimah itu dalam hatinya. ia langsung menyudahi interview dan meminta polisi untuk mengantarkannya keluar dari ruangan itu.
                                                                         ***
Bila kita menjaga perintah Allah dan mengingat namanya dimanapun kita berada, maka Allah juga akan menjaga dan mengingat kita dimanapun kita berada. begitu luar biasa kisah nyata ini, semoga menjadi hikmah  bagi kita dan semoga kita juga mendapatkan pelajaran dari kisah ini.

Kamis, 11 Juli 2013

kata-kata manis tercipta tanpa sengaja♥



Saat tatap pertama terjadi
mataku bertemu matamu
hati seakan menagih untuk kembali diulangi
bayang dirimu
seakan mengikuti aku
lukisan senyummu
menetap dalam pikiranku
seakan tlah terjebak tak mampu pergi
menciptakan cerita dalam tiap-tiap mimpi tidurku
rindupun mulai hadir
hati seakan memaksa minta bertemu
dan aku pun mulai sadar
ada sesuatu terjadi pada hati
dan aku pun mulai tau
apa maunya hati ini
cinta...
hadirnya seakan misteri
dunia begitu sempurna dengan sendirinya
mempertemukan kita pada saat tak terduga
rasa syukur atas perjumpaan sederhana

- Rusanti Retno Duwika

Sabtu, 15 Juni 2013

secara pasti aku jadi dewasa

waktu tak hentinya melaju. meninggalkan yang lalu dengan memberikan jejak-jejak kenangan. sudah sejauh ini perjalanannya, telah mampu menciptakan begitu banyak cerita. dan aku sendiri pun tak tau siapa yang akan datang lagi atau pergi lagi, ya semua seakan misteri. memang tanpa terasa waktu bergerak begitu cepat, mampu menguak peristiwa demi peristiwa hingga menembus batas waktu, yang aku pun tak pernah menyangka dengan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dan telah terlewati ini :") masa lalu, ya aku pernah punya cerita tentang seseorang dari masa lalu. semua berawal manis namun harus berakhir pahit. semua yang awalnya selalu ciptakan warna di kehidupanku, namun berakhir tanpa goresan tinta sedikitpun, ya abstrak sekali rasanya :') terkadang aku ingin sekali menawar, namun kenyataan telah memberikan harga pasti. semua yang telah terjadi membuatku semakin memahami, mengerti bahwa semua memang telah terjadi. tak akan mampu tuk merubahnya lagi, takkan bisa aku kembali dan menyalahkan yang tlah terjadi. tapi aku yakin, semua yang terjadi telah menjadi rencana Tuhan, dan aku pun percaya rencana-Nya pasti jauh lebih indah :') pelan-pelan mencoba melupakan luka di masa laluku, melupakan segala yang memang harus dilupakan, tuk ciptakan senyumku kembali :') sempat menyerah, aku berpikir sulit buatku melakukan itu. karna semakin aku mencoba melupakan, semakin dalam ingatanku tentang dia dan lukaku. telah mencoba membuka ruang untuk yang baru, tuk kembali ciptakan cerita baru. namun memang tak mudah. tak terhitung berapa yang telah mencoba datang, memperjuangkan semuanya untuk bisa masuk, untuk bisa mengobati luka itu. namun hati memang tak sanggup tuk kembali membuka, berusaha tuk menyembuhkan luka itu sendiri, ya aku paham, mungkin hati hanya takut tuk terluka lagi :') hingga kembali kepada perjalanan waktu yang begitu cepat, semua telah berubah. tak ada lagi rasa sakit itu, seakan telah terlupa terhapus oleh sang waktu, telah menghilang tanpa jejak sedikitpun. sedih? bahkan kini tak ada lagi :) bagaimana mungkin aku akan menyia-nyiakan kebahagiaanku untuk terus tinggal dan bertahan pada masa lalu, terus melihat ke belakang hanya akan memberi luka. hingga akhirnya aku mampu mengerti dengan logika dan juga hati, kesedihan di masa lalu telah berikanku pelajaran luar biasa. kesalahan di masa lalu telah berikanku pelajaran berharga, aku belajar dari sana. tak ada lagi penyesalan, yang ada rasa syukur bahwa tanpa kesalahan masa lalu dan tanpa berakhirnya cerita masa lalu itu, mungkin aku tak akan bisa merasakan keindahan yang lebih di hidupku saat ini. rasa syukur karna aku telah mampu menyadari bahwa akan lebih sakit jika aku lebih lama bertahan dengan seseorang yang bahkan tak pernah mengerti tuk sedikit saja memahami sebuah ketulusan. lucu ya, aku sempat terpikir aku tidak akan pernah bisa merasakan kebahagiaan lagi.. tapi sekarang, saat ini aku merasakan kebahagiaan yang lebih dari sebelumnya. merasakan hidup yang jauh lebih baik, hidup yang ternyata lebih indah dari yang lalu. memang, perjalanan waktu tak akan pernah bisa diduga, tak akan bisa ditebak cerita apalagi yang akan hadir :)) pelajaran berharga telah merubahku jadi lebih baik, bukan lagi aku yang dulu. kini aku merasa lebih bahagia dan secara pasti aku jadi dewasa! :))

Minggu, 17 Maret 2013

the first story about first love♥

Mengawali cerita pertamaku tentang bulan maret di bulan maret ini. kenapa bercerita tentang bulan maret? ya karna ada kenangan indah di bulan ini. kenangan tentang aku dan kamu.. yang dulunya menyatu menjadi "kita" dan sekarang kembali menjadi bukan siapa-siapa. ya karna kamu bukan milikku lagi :') sedih memang, bahkan sampai saat ini air mata itu masih sering terjatuh saat pikiran kembali mengingatmu. saat pikiran bertengkar dengan kenyataan. kenyataan yang menegaskan kepadaku kalau kau memang tak seharusnya di ingat lagi, yang mencoba menyadarkanku kalau kau memang sudah pergi dari hatiku, yang menyuruhku untuk segera melupakanmu dan menerima yang datang untuk mengisi hatiku yang telah lama tak ada pemiliknya ini, untuk kembali menerima seseorang yang akan mengisi hariku, menemani hari-hariku bahkan menghabiskan waktu bersamaku, dan untuk kembali menuliskan cerita baru. tapi tak mudah, aku sudah berusaha membuka hati untuk menerima cinta yang baru dan selalu gagal. belum ada yang membuatku merasa nyaman, senyaman aku bersamamu, belum ada yang mampu membuatku mencintai yang seperti aku mencintaimu, mencintai yang ku rasa begitu tulus, mencintai yang aku sendiri pun tak punya alasan mengapa cinta itu ada, yang aku sendiri pun tak mengerti dari mana cinta itu bisa hadir dan menguasai pikiranku dengan segala tentangmu. kau berhasil membuat hari-hariku terasa begitu indah, kau seperti selalu punya cara untuk buat hariku menjadi begitu sempurna. bahkan sedihku saja bisa hilang saat bersamamu, masalah pun serasa hilang saat di dekatmu dan dari segala tentangmu itu, bagaimana mungkin aku bisa dengan mudah melupakan tentangmu, tentang kita. kau masih ingat tanggal ini? tepatnya 1 tahun yang lalu. tanggal dimana pendekatan kita yang begitu lama sebagai teman berganti menjadi sepasang kekasih saat kau menyatakan perasaanmu padaku. dan harus kau tau betapa bahagianya aku saat itu sampai aku sendiripun sulit untuk menjelaskannya, jantung yang berdenyut lebih kencang saat itu, senyum kebahagiaan yang hadir saat itu dan hati yang serasa diselimuti oleh bunga-bunga indah. kehadiranmu dengan menjadi bagian dari hidupku saat itu mampu memberikan arti, membuat hariku jauh lebih berwarna karna setiap hari yang aku lalui denganmu selalu punya cerita, cerita indah. kau mengajariku tentang sesuatu yang baru, yang membuat aku merasakan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. dan itu indah sekali. ya semua tentangmu memang selalu indah, aku menyukai segala tentangmu. aku menyukai matamu, mata yang saat menatap mataku begitu tajam dan begitu lama. aku bahkan rindu tatapan itu, tatapan yang semakin meluluhkanku, aku meyukai senyummu, senyum yang selalu kau berikan buatku, aku menyukai tawamu, tertawa lepas yang pernah kita lakukan bersama, dan aku mencintai sajak-sajak indah yang selalu kau kirimkan sebelum aku tertidur, aku merindukan kalimat " I Love You Amoy " yang selalu kau ucapkan dan tak pernah lupa kau ucapkan dan aku rindu saat kau menggenggam tanganku begitu erat, seolah tak ingin melepaskannya.aku juga rindu berbicara berjam-jam di telp denganmu, setiap hari sebelum aku tertidur. aku rindu surprise-suprise sederhana yang sering kau berikan buatku, aku rindu kekhawatiranmu ketika ku sakit :') aku merindukan semuanya, kau berikan aku sejuta kenangan. kenangan yang sulit sekali aku lupakan. kau memang hanya bagian dari masa laluku. dan terimakasih untuk semua kenangan yang kau berikan. dan aku akan berusaha melupakanmu tanpa tersisa kenangan yang teringat lagi karna aku percaya akan ada yang lebih baik darimu, akan aku temukan penggantimu untuk kembali mengisi hari-hariku dan kembali buatnya lebih indah dan berwarna. "sampai aku lupa segala tentangmu dan sampai pada saatnya Tuhan pertemukanku dengan kebahagiaanku"